Panduanrakyat
Wakatobi

Pemdes Kampo-kampo Wakatobi Manfaatkan Potensi Desa Jadi Program Unggulan

Sekretaris Desa Kampo-Kampo La Ode Samarudin/Foto: Panduanrakyat.com

PANDUANRAKYAT, WAKATOBI-Pemerintah Desa Kampo-Kampo, Kecamatan Binongko, Kabupaten Wakatobi memilih program unggulan di bidang perikanan. Hal itu menyesuaikan dengan kondisi geografis wilayah.

Sekretaris Desa Kampo-Kampo La Ode Samarudin menjelaskan secara keseluruhan Pulau Binongko adalah daerah pesisir yang terletak di ujung Kabupaten Wakatobi. Jadi jika berbicara program unggulan maka perikanan/kelautan yang akan menjadi keunggulan dari pulau ini.

“Kalau kita berbicara Wakatobi secara umum, berbicara tentang kelautan. Berarti diprogram unggulan kami adalah nelayan (perikanan), karena untuk kampo-kampo secara khusus nelayan itu hampir 75%. Jadi prioritaskan untuk program unggulan kami itu nelayan. Karena wilayah secara geografis kita berbicara tentang daratankan tidak mungkin, jadi laut yang di prioritaskan. Jadi banyak bantuan itu diprioritaskan pada nelayan,” ujar Sekretaris Desa Kampo-Kampo, La Ode Samarudin saat di temui di Kantornya, Jl. Wakalihi pada Selasa, 10-05-2022.

“Jadi program unggulan itu kelautan, sudah di rapatkan dan pelaksanaan baru, karena ADD baru keluar. Jadi untuk berdasarkan aturan pemerintah itu 40%-60% di prioritaskan buat BLT dulu, kemudian 20% untuk ketahanan pangan. Ketahanan pangan yang di maksud sudah seperti tadi kaya pembelanjaan seperti jaring yang bisa menghasilkan pangan atau alat tangkap lain yang bisa menopang kehidupan masyarakat di masa pandemi seperti ini. Kalau untuk pertanian seperti itu tadi prioritas mungkin untuk pembelian pupuk”, ujarnya.

Ia menjelaskan pada masa pandemi ini, nelayan berperan penting akan perekonomian desa yang kemudian menopang kehidupan warga.

“Kalau menurut saya dia kan bisa sukses bahkan bisa menopang kehidupan masyarakat dimasa pandemi. Karena seperti yang saya bilang tadi untuk prioritas kelautan tadi seperti penambahan jaring, untuk penambahan ikannya, tali rompong untuk penghasilan masyarakat karena setelah pasang rompong di tangkap ikannya lalu di jual yang bisa menghasilkan bagi masyarakat karena kalau kita berbicara dimasa pandemi ini lebih dari 50%, sehingga kita tidak bisa prioritaskan yang berupa bangunan atau yang lain-lain,” ujarnya.

“Jadi kita berbicara tentang ketahanan pangan saja yang 20% itu kita bisa serahkan ke masyarakat apa-apa yang perlu di bangun untuk bantuan seperti jaring, alat tangkap lain seperti pancing. Tapi yang di prioritaskan kemarin dari kepala desa itu jaring dan tali rompong untuk penopang pangannya 20%. Karena yang 50% lebih kita tidak bisa pake anggarannya sudah digunakan pada BLT”, tambahnya.

Lanjut, ia menjelaskan jumlah masyarakat yang menerima program unggulan ini belum bisa di pastikan, para penerima bantuan program unggulan akan dipilah lebih dahulu mana orang-orang yang sudah menerima bantuan lain-lain dan mana yang belum.

“Untuk jumlah masyarakat yang menerima program unggulan ini belum dirapatkan tapi sudah di prediksi kepala desa yaitu misalnya yang kemarin dapat bantuan BLT dan lain-lain tidak di prioritaskan tapi yang di prioritaskan yaitu masyarakat yang belum mendapat”, katanya.

“Pada dasarnya masyarakat Kampo-Kampo itu secara umumnya boleh di katakan masyarakat yang tidak mampu, karena kecuali mereka bekerja baru dapat hasil/uang”, sambungnya.

Untuk anggaran yang masuk itu secara bertahap jadi masih akan di raptkan dulu kapan waktu yang tepat untuk pembagian program unggulan tersebut.

“Anggaran baru keluar sebelum lebaran, kapan waktunya belum di pastikan secara pasti karena anggaran ini keluarnya bukan serentak, melainkan 3 tahap. Keluarnya 20% itu tidak satu kali keluar”, ujarnya.

Peliput: Ika Fitriani