BAUBAU,PANDUANRAKYAT.COM – Bupati Buton kedua, Moh Kasim yang awalnya dimakamkan di pemakaman Islam di Kelurahan Bataraguru berpindah ke pemakaman keluarga di Kelurahan Wajo, Sabtu, 30 Mei 2026.
Hal tersebut dilakukan karena keluarga almarhum berkeinginan agar dimakamkan di makam keluarga.
Proses pemindahan makam Moh Kasim berlangsung hikmat karena Pemerintah Kota (Pemkot) Baubau memberikan penghormatan sekaligus penyerahan almarhum dari pemerintah ke pihak keluarga.
Hadir Wakil Wali Kota, Wa Ode Hamsinah Bolu, Ketua TP PKK Kota Baubau Hj. Sitti Aryati, Sekda Kota Baubau, La Ode Darus Salam, para Asisten, serta sejumlah kepala OPD hingga ke lokasi pemakaman.
Perwakilan keluarga, Moh. Abduh bercerita, yang paling dikenang dari Bupati Kasim adalah sosoknya yang cerdas. Alumni Universitas Gajah Mada (UGM) itu sejak awal telah memiliki ketertarikan di dunia pendidikan. Hasilnya, Moh Kasim menjadi salah satu yang menggagas pendirian Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra) pada awal 1960-an.
Abduh bilang, Kasim merupakan sosok yang sangat semangat dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM). Hal itu menjadi salah satu warisan penting yang ditinggalkan selama memimpin Buton.
“Semangat beliau dalam membangun Kota Baubau itu salah satu pilar yang diutamakan adalah pembangunan sumber daya manusia. Di masa itu sulit sekali untuk mengembangkan SDM karena keterbatasan baik dosen, tenaga pengajar maupun sarana-prasarana,” ungkapnya.
Tanda kecerdasan Bupati Kasim juga diantaranya kemampuannya menguasai beberapa bahasa asing seperti bahasa Inggris, Jepang, dan Belanda. Bukti, Kasim didaulat menjadi perwakilan Indonesia ke Amerika Serikat dalam rangka studi penataan kota.
Kecakapan Kasim semakin terbukti tak kala dirinya dilantik menjadi Bupati Buton kedua di tahun 1964 menggantikan La Ode Abdul Halim. Sayangnya, Kasim harus melepas jabatannya setelah kurang lebih menjabat selama lima tahun. Ia tutup usia pada 08 Agustus tahun 1969. Diakhir hayatnya, Kasim meninggalkan seorang istri dan lima orang anak yang terdiri dari empat orang putra, dan seorang putra.
Ditempat sama, Wakil Wali Kota Baubau, Wa Ode Hamsinah Bolu mengungkapkan Bupati Kasim merupakan sosok inspiratif. Sebab, Kasim merupakan sosok yang berjasa bagi masyarakat Buton dan khususnya Kota Baubau.
“Beliau adalah tokoh yang utama di masa awal pembentukan Provinsi Sulawesi Tenggara. Menjadi wakil kita, salah satu dari tokoh terpenting yang mewakili masyarakat Buton di masa-masa awal pemerintah Sulawesi Tenggara,” ungkap Hamsinah dihadapan keluarga besar Moh Kasim.
Hamsinah menilai, Bupati Kasim sosok yang mengagumkan. Sebab, diusia 35 tahun yang masih sangat muda kala itu telah mampu menjadi pemimpin daerah.
Menurutnya, kepemimpinan generasi terdahulu terbentuk dari perpaduan adat, budaya, dan agama yang kuat sehingga melahirkan sosok pemimpin matang dan berprestasi.
“35 tahun sudah mampu menjadi pemimpin Buton, Kabupaten Buton saat itu. Dan bukan karena alasan yang lain-lain, tetapi memang karena prestasi yang tidak hanya teruji di tanah Buton, tetapi juga hingga ke Makassar, hingga ke Yogyakarta,” ujarnya.
Ia menambahkan sosok Bupati Kasim perlu dijadikan panutan untuk generasi muda Buton kekinian.
Reporter : Ardilan

