Panduanrakyat
Baubau

Peserta Pelatihan Menjahit di Disnaker Baubau Termasuk yang Terbaik

Ketgam: Kadisnaker Baubau, Moh Abduh/Foto: Ardilan

BAUBAU,PANDUANRAKYAT.COM – Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra) yang menggelar pelatihan menjahit pada periode Agustus dan awal September 2025 lalu rupanya termasuk dalam terbaik oleh Badan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Kota Kendari dan penguji khusus yang juga berasal dari Kendari yang menguji para penjahit dalam pelatihan tersebut.

Hal ini sebagaimana diungkapkan Kepala Disnaker Baubau, Moh. Abduh. kata Abduh, total 32 penjahit yang ikut serta dalam pelatihan menjahit yang dilaksanakan Disnaker Baubau mendapat pujian yang cukup bagus baik dari tenaga pelatih (Trainer) maupun asesor (Penguji).

“Pihak aksesor kaget juga melihat kemampuan peserta yang ada di Baubau, mereka senang. Mereka bandingkan dengan daerah lain, Baubau termasuk salah satu yang terbaik,” ungkap Abduh, Jum’at 19 September 2025.

Abduh menjelaskan, pelatihan menjahit diikuti oleh dua kategori. Pertama, kategori pemula yang baru pertama kali belajar menggunakan mesin jahit diberikan pelatihan selama sekitar seminggu.  Peserta pemula itu diharapkan memiliki kemampuan mengurangi beban pengeluaran seperti misalnya, pejahit tersebut dapat menyelesaikan persoalan jahit yang terbilang mudah. Contoh jahitan sederhana pada pakaian sekolah.

“Di sisi lain, mereka (Penjahit pemula) diharapkan dapat menerima job. Misalkan memperkecil ukuran celana, potong jahitan, menjahit pakaian yang robek. Mungkin hanya Rp 10 ribu atau Rp 20 ribu, tapi mereka terima (Penghasilan). Itu kami minta foto dan laporkan. Sekitar seminggu selesai pelatihan, masuk laporan mereka ini sudah terima (Job menjahit), ada yang potong celana. Difoto uang yang diterima, berapa jahitan yang mereka terima untuk kita data. Ini yang kita harapkan semakin tumbuh keinginan berusaha, kapasitas mereka kita tingkatkan,” ungkapnya.

Sementara kategori kedua, sambung Abduh, untuk penjahit yang ditingkatkan kapasitas menjahit diberikan pelatihan kurang lebih sekitar sebulan lamanya. Setelah itu, kemudian diberikan uji kompetensi dengan skema ujian wawancara, ujian tulisan, dan ujian praktek menjahit secara langsung selama tiga jam.

Ia menyebut, hasilnya penjahit sebanyak 12 peserta itu memperoleh dua sertifikat dengan jenis berbeda. Pertama, sertifikat dari Disnaker Baubau. Kedua, sertifikat nasional yang dikeluarkan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dari Jakarta.

“Selesai dilatih, kemudian diuji, tidak otomatis keluar sertifikat. Dinilai dulu kelayakannya baru dimintakan sertifikatnya di Jakarta. Kita harapkan mereka dapat membuka lapangan usaha. Mereka ini memang sudah layak, karena selain bisa menjahit yang diupgrade, mereka juga sudah diajarkan untuk mendesain pakaian terutama untuk pakaian wanita,” tuturnya.

Ia menambahkan di tahun 2025, peminat latihan menjahit tercatat melebihi 400 orang. Namun yang memenuhi persyaratan berkas hanya sekitar 363 orang, padahal kuota yang tersedia hanya sebanyak 32 peserta saja. Diharapkan ke depan, program pelatihan juga ditingkatkan kuotanya agar membuka ruang kesempatan bagi yang berminat terhadap kegiatan menjahit.

Reporter : Ardilan