PANDUANRAKYAT, BUTON- Bupati Buton, Alvin Akawijaya Putra, SH menghadiri Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H, d Baruga Kambula bulana Pasarwajo, Kelurahan Kambula bulana, Minggu Pagi, 21 September 2025.
Kegiatah yang bertajuk Maulid Nabi Adalah momen bagi umat Islam untuk bersyukur atas anugerah kenabian Rasululah Muhammad SAW diawali dengan salawat nabi oleh Ibu-ibu Majelis Taklim Kelurahan Kambula bulana.
Ustaz Sahrul Al Hafidz dalam ceramahnya menekankan keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam pembinaan Keluarga. Kebaikan seseorang diukur kebaikannya dengan keluarganya.

Bupati Buton pada kesempatan itu Bupati Buton untuk meneladani Nabi Muhamaad. “Mari kita mengayomi keluarga kita, anak-anak kita, sebagai generasin penerus, membekali mereka dengan wawasan kelimuan, tapi tidak boleh melupakan sifat-sifat agamis,” kata Bupati Buton.
Lebih lanjut Bupati mengharapkan pada moment peringatan Maulid Nabi Muhammad agar semua stakeholder mengambil peran dalam membina generasi penerus sehingga menjadi generasi Buton yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai agama.
Maulid Nabi Muhammad: Asal Usul dan Maknanya
Maulid menjadi momentum umat Islam untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW yang membawa cahaya Islam bagi semesta alam. Mengutip laman dki.kemenag.go.id, kata maulid atau maulud berasal dari bahasa Arab yang berarti hari lahir.
Nabi Muhammad lahir pada tanggal tanggal 12 Rabiul Awal tahun 570 Masehi. Tanggal tersebut kemudian diperingati sebagai peringatan Maulid Nabi bertahun-tahun setelahnya. Tahun ini, Maulid Nabi bertepatan dengan tanggal 16 September 2024.

Peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW sering dilakukan dengan beragam cara. Indonesia dengan kekayaan khazanah budayanya, mempunyai tradisi yang berbeda-beda dalam merayakan Maulid Nabi.
Dilansir laman rri.co.id, beberapa contoh tradisi perayaan Maulid Nabi, antara lain Ampyang Maulid di Kudus, Grebeg Maulid di Solo, Nyiram Gong di Cirebon, Masak Kuah Beulangong di Aceh, hingga Bungo Lado di Padang Pariaman. Tidak heran jika perayaan Maulid Nabi sekaligus menjadi agenda tahunan di beberapa daerah.
Asal Usul Maulid Nabi
Ahli sejarah Islam sekaligus Dosen Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah (UMS), Dartim, S.Pd., M.Pd., mengatakan asal-usul perayaan Maulid Nabi masih diperdebatkan. Sebab, tidak ada dalil tentang Maulid Nabi yang secara spesifik menerangkan tentang perayaan tersebut.

“Ini kan sesuatu yang sangat debat-able. Artinya tidak ada satu ulama pun yang sepakat ini (Maulid) mulainya dari era tertentu,” ungkap Dartim.
Menyadur laman detik.com, penulis AM Waskito dalam buku bertajuk Pro dan Kontra Maulid Nabi, peringatan kelahiran Baginda Rasulullah SAW itu sudah diperingati sejak ribuan tahun silam. Ada beberapa teori yang menyertainya, antara lain:
Kalangan Dinasti Ubaid (Fathimi) di Mesir yang beraliran Syiah Ismailiyah (Rafidhah) memulai perayaan Maulid Nabi pada 362-567 hijriah. Saat itu, perayaan Maulid Nabi hanya dilakukan sebagai salah satu perayaan saja.
Maulid Nabi berasal dari kalangan ahlus sunnah oleh Gubernur Irbil di wilayah Irak, Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri. Dalam riwayatnya, sang gubernur mengundang para ulama, ahli tasawuf, ahli ilmu, dan seluruh rakyatnya, serta memberikan hidangan, hadiah, hingga sedekah kepada fakir miskin sebagai bentuk merayakan Maulid Nabi.

Teori lain menyebut peringatan Maulid Nabi diadakan pertama kali oleh Sultan Shalahuddin Al Ayyubi atau Muhammad Al Fatih. Tujuannya untuk meningkatkan semangat jihad kaum Muslimin, selama masa Perang Salib melawan kaum Salibis dari Eropa dan merebut Yerusalem.
Tersebab tidak adanya sejarah yang pasti mengenai asal usul perayaan maulid, lantas bagaimana pandangan Majelis Tarjih Muhammadiyah menyikapi perayaan tersebut?
Dartim mengatakan di dalam tubuh Majelis Tarjih Muhammadiyah pun belum ada kesepakatan terkait riwayat mana yang pasti. Tidak ada fatwa yang dikemukakan majelis terhadap perayaan Maulid Nabi.

“Tidak mengharamkan karena tidak ada dalil yang menerangkan (kehalalannya). Juga tidak melarang karena acaranya juga diisi dengan kemaslahatan, tidak ada kemaksiatan, dan tidak merusak aqidah,” sambungnya.
Dia berpandangan perayaan Maulid Nabi lebih kepada urusan muamalah. Menurut bahasa, muamalah berarti dikerjakan. Berawal dari kegiatan yang rutin dilakukan, kemudian menjadi tradisi, dan menjadi budaya.
Dartim menekankan pentingnya menggelar kegiatan yang bermanfaat untuk merayakan Maulid Nabi. Misalnya melalui kegiatan kajian akbar dengan tema meneladani Rasulullah SAW.

Jika perayaan Maulid Nabi diwarnai dengan berbagai hal yang bertentangan dengan ajaran Islam, seperti kemusyrikan, kemaksiatan, dan pemborosan yang tidak perlu, maka peringatan tersebut lebih baik ditinggalkan agar tidak mendatangkan mudarat.
Memaknai Maulid
Peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW menjadi momentum untuk merefleksikan diri sekaligus meneladani perilaku sang Rasul. Sebab, Rasulullah adalah suri teladan terbaik bagi umat manusia. “Keteladanannya pasti akan bisa diikuti hingga hari akhir,” ucap Dartim.
Dartim menyebut banyak perilaku Nabi yang dapat dicontoh generasi saat ini, mulai dari akhlak, adab, hingga kejujuran. Hal ini tercermin dari upaya Rasulullah menegakkan hukum, memberdayakan ekonomi, hingga menggelar sistem pendidikan. Baginya, Rasulullah adalah pribadi yang teratur dan sabar.

Salah satu akhlak Nabi yang menurut Dartim harus diteladani saat ini adalah kejujuran. Sifat ini sangat penting dalam membina hubungan antar masyarakat dan menjawab kemaslahatan umat.
Nabi Muhammad SAW harus menjadi teladan umat Islam. Saat seseorang menyukai orang lain dan menjadikannya idola, maka sifat-sifat sang idola akan disukai oleh penggemarnya. Dengan menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai idola, Dartim melihat sifat-sifat Rasulullah dapat diikuti dan menginspirasi orang yang menggemari Nabi.
“Meneladani beliau adalah bagian dari rasa senang kita atas kelahiran Rasul dan sekaligus merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW,” imbuhnya.”Nilai-nilai Nabi Muhammad harus hadir dalam kehidupan. Itu bagian dari kita untuk meneladani Nabi.”
Perayaan di Indonesia
Ada beragam cara untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia. Dartim mengatakan perayaan Maulid Nabi di Indonesia tidak lepas dari pengaruh Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di Nusantara.

“Wali Songo melihat orang Jawa itu kok senang dengan kumpul-kumpul, tradisi, dan perayaan. Maka dengan semangat dakwah Wali Songo itu, tradisi yang sudah ada diisi dengan nilai-nilai Islam. Salah satunya dengan memperingati Maulid Nabi tetapi tetap mempertahankan nilai-nilai Islam,” ujar dia.
Mengutip laman detik.com, peringatan Maulid Nabi di Indonesia mulai dikembangkan Wali Songo sekitar tahun 1404 masehi. Tujuannya saat itu untuk menarik hati masyarakat Jawa agar mau memeluk agama Islam.
Maulid Nabi di Indonesia juga dikenal dengan nama perayaan Syahadatain. Kraton Trah Mataram Islam masih menjaga tradisi Maulid Nabi dengan menggelar perayaan Grebeg Maulud karena tradisi masyarakat merayakan Maulid Nabi dengan cara menggelar upacara nasi gunungan. (*)

