Panduanrakyat
Opini

Kopdes Merah Putih: Menunggu Gebrakan Pengurus

L. M. HASRUL ADAN

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Muhammadiyah Buton

PANDUANRAKYAT– Pada Hari Senin, 21 Juli 2025 Presiden Prabowo melakukan peresmian dan peluncuran kelembagaan 80.081 Koperasi desa dan kelurahan Merah Putih (KDMP/KKMP) di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, (https://www.kemenkeu.go.id/informasi-publik/publikasi/berita-utama/kop-merah-putih-luncur). Peluncuran ini menandai dimulainya gerakan nasional untuk memperkuat ekonomi rakyat melalui koperasi yang tersebar diseluruh pelosok desa dan kelurahan.

Sekitar satu bulan lalu saya berdiskusi dengan ketua Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang berasal dari Kabupaten Buton Tengah, saya sangat mengapresiasi semangatnya dalam menyampaikan visi misinya untuk menghidupkan KDMP di desanya. Setelah berdiskusi beberapa jam maka lahirlah draf “Proposal Bisnis” sebagai bahan kelengkapan untuk pengajuan permodalan kelak.

Saya tidak tahu apakah para pengurus Koperasi Merah Putih Desa menyadari bahwa mereka sedang memegang “api kecil” yang bisa menerangi masa depan ekonomi Masyarakat di desa. “Api” itu belum besar, tapi cukup untuk menyalakan harapan ditengah redupnya semangat koperasi di negeri ini. Namun, “api kecil itu tidak akan tumbuh jika hanya dikipasi wacana, la butuh gebrakan nyata.

Sudah menjadi rahasia umum setiap koperasi hidup atau mati tergantung pada pengurusnya. Modal bisa dicari. Alat bisa dibeli. Tapi kepercayaan (trust)? Sekali hilang, tamat sudah. Disini pentingnya integritas dan akuntabilitas pengurus sangat diharapkan.

Pengurus Kopdes harus bergerak cepat, seperti nakhoda yang tahu kapal ini belum besar tapi sudah berlayar di laut dalam. Mereka harus turun langsung: melihat gudang, berbicara dengan anggota, mendengar keluhan, dan menghitung setiap rupiah yang keluar dan masuk. Jangan menunggu bantuan datang. Bantuan tidak selalu datang tepat waktu dan sering kali datang dengan syarat yang mengikat.

Koperasi yang menunggu akan mati perlahan. Koperasi yang bergerak akan hidup karena dana pinjaman yang disiapkan pemerintah pun harus “dijemput” di Bank Himbara yang mekanismenya diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 49 Tahun 2025.

Kopdes Merah Putih punya keunggulan yang jarang dimiliki koperasi lain, semangat nasionalisme dan kebersamaan yang masih hangat didada masyarakat desa. Nama Merah Putih bukan sekadar simbol. la pesan moral bahwa koperasi ini harus menjadi wajah ekonomi Indonesia yang berdikari. Itu berarti: membeli produk lokal, mengolah di desa, menjual keluar dengan harga layak. Bukan hanya soal laba, tapi soal kemandirian desa..

Bayangkan jika Kopdes bisa mengelola satu komoditas unggulan seperti jambu mete di Buton Tengah, ikan dan rumput laut di pesisir Kepton dan Kota Baubau atau kelapa di Lasalimu, dengan sistem modern tapi jiwa gotong royong. Kopdes bisa menjadi miniature ekonomi nasional-kecil tapi mandiri, lokal tapi berdaya saing.

Gebrakan yang ditunggu bukanlah pidato panjang di balai desa.

Gebrakan yang ditunggu adalah tindakan kecil yang menggerakkan roda ekonomi. Mungkin pengurus bisa memulai dari: membuka unit usaha bersama; menjalin

kemitraan dengan UMKM lokal; membangun sistem digital sederhana untuk mencatat keuangan; atau sekadar mengumpulkan anggota tiap bulan untuk transparansi laporan. Langkah-langkah kecil itulah yang akan membesarkan nama Kopdes. Karena dalam dunia ekonomi rakyat, perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bersama.

Kopdes Merah Putih memiliki legitimasi politik, sosial, dan moral. Tapi tanpa legitimasi aksi, semua itu tak lebih dari papan nama yang dipasang di depan kantor desa. Dalam konteks ekonomi rakyat, gebrakan tidak selalu berarti proyek besar. Kadang hanya dimulai dari langkah kecil yang terukur: membuka akses pasar daring, mempertemukan petani dengan pembeli, atau sekadar mengajarkan literasi keuangan sederhana kepada anggota, disitulah letak revolusi kecil yang sesungguhnya.

Ketika pengurus Kopdes Merah Putih mulai berani menyalakan “api” kecilnya, jangan heran bila suatu hari nanti cahaya itu menyinari seluruh ekonomi desa di Sulawesi Tenggara. Karena api perubahan selalu lahir dari tangan orang-orang yang tidak menunggu. (*)