Panduanrakyat
Advertorial Buton

Bupati Alvin Merajut Asa Kembalikan Kejayaan Aspal Buton

PANDUANRAKYAT, BUTON- Tambang Aspal pernah jaya dan menjadi kebanggaan masyarakat Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara.

Bahkan, saking terkenalnya, sering menjadi topik pembicaraan di mata pelajaran SD, terutama dalam pelajaran Geografi dan IPS. Ini karena aspal Buton merupakan sumber daya alam penting yang terkenal di Indonesia dan bahkan dunia.

Sejarah aspal Buton dimulai sejak masa penjajahan Belanda. Aspal Buton yang ditemukan pada tahun 1924 oleh seorang Geolog Belanda W.H. Hetzel. Kemudian pada tanggal 21 Oktober 1924 konsesi penambangan Aspal Buton selama 30 tahun diberikan kepada seorang Pengusaha Belanda, A. Volker. Pengusahaan pertambangan Aspal Buton, selanjutnya dilakukan oleh Perusahaan Belanda, N.V. Mijnbouw en Cultuur Maschappij Buton. Lalu kemudian, tahun 1926 sudah melakukan penambangan Aspal Buton secara terbuka.

Pengelolaan Aspal Buton setelah Indonesia merdeka terjadi pada tahun 1955 sempat jaya karena berada di bawah Jawatan Jalan-jalan dan Jembatan Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga yang merupakan hasil nasionalisasi terhadap perusahaan Belanda.

Sehingga, pada tahun 1961 dibentuklah Perusahaan Aspal Negara (PAN) untuk pengelolaan Aspal Buton. Pada tanggal 30 Januari 1984, PAN berubah menjadi PT Sarana Karya (Persero).

Seiring berjalan waktu,pemanfaatan aspal Buton mulai menurun hingga memupus cerita manis itu.

Penurunan pemanfaatan aspal Buton disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah munculnya aspal minyak (aspal hasil olahan minyak bumi) yang lebih mudah diproduksi dan lebih murah. Selain itu, aspal Buton juga menghadapi tantangan dalam segi mutu dan efisiensi pengerjaannya, serta membutuhkan investasi teknologi yang besar untuk mengekstrak aspal secara optimal. 

Akhirnya di tanah asalnya sendiri, aspal buton pun kalah bersaing. Padahal Cadangan aspal Buton di atas 600 juta ton. Kandungan ini disebut mencapai 80 persen cadangan aspal alam dunia sehingga mampu memenuhi kebutuhan aspal dalam negeri selama ratusan tahun.

Kini, di tangan Bupati muda Alvin Akawiya Putra, menjaga asa menumbuhkan harapan kejayaan itu kembali mekar.

Bupati Alvin Akawiya Putra secara aktif mendorong pemanfaatan aspal Buton sebagai solusi infrastruktur jalan yang efisien ramah lingkungan dan berbasis sumber daya lokal.

Bupati Buton mendorong pemanfaatan aspal Buton ini ketika menghadiri kegiatan internasional konferensi on infrastruktur (ICI) yang diselenggarakan pada 11- 12 Juni 2025 bertempat di Jakarta internasional Convention center (JICC) Rabu Pagi 11 Juni 2025.

Konferensi internasional ini menjadi ajang strategis untuk membahas pembangunan infrastruktur berkelanjutan dan inovatif di Indonesia

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh menteri koordinator infrastruktur pembangunan kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono dan turut dihadiri Menteri Pekerjaan Umum Dodi Hanggodo wakil Menteri PU Diana Kusumastuti serta sejumlah menteri lainnya kepala daerah dari seluruh Indonesia dan pemangku kepentingan di bidang infrastruktur.

Bupati Alvin Akawiya Putra menegaskan aspal Buton merupakan kekayaan nasional yang selama ini belum dimaksimalkan secara optimal padahal memiliki potensi besar untuk mendukung pembangunan infrastruktur jalan di berbagai wilayah Indonesia.

“Melalui forum ini kami ingin kembali mengingatkan bahwa Buton memiliki sumber daya strategis berupa Asbuton yang terbukti tahan lama dan berkualitas Sudah saatnya Aspal Buton tidak hanya dikenal tapi juga digunakan secara luas sebagai bahan baku utama pembangunan, ” Tegas Bupati Alvin.

Konferensi ini juga menjadi momentum penting untuk memperkuat kerjasama antara pemerintah pusat dan daerah dalam hal kebijakan riset serta investasi infrastruktur berbasis sumber daya domestik.

Bupati Buton berharap ke depan akan ada lebih banyak regulasi dan dukungan konkret untuk pemanfaatan aspal Buton sebagai bagian dari program prioritas nasional.

Dengan keikutsertaan dalam ICI 2025, Bupati Alvin menunjukkan komitmen Pemerintah Kabupaten Buton untuk tidak hanya menjaga kekayaan alam daerah tetapi juga menjadikan sebagai motor penggerak pembangunan ekonomi dan infrastruktur baik di tingkat lokal maupun nasional. (*)