Panduanrakyat
Buton

Banjir Tahunan Lasembangi Mulai Hantui Warga

Sungai di desa Lasembangi meluap dan menerjang rumah warga, Sabtu (4/4/2020) silam

PANDUANRAKYAT, BUTON- Banjir tahunan mulai menghantui masyarakat di Desa Lasembangi, Kecamatan Lasalimu, Kabupaten Buton menyusul hujan deras yang kerap mengguyur daerah itu.

Kepala Desa Lasembangi, Saba Parta menjelaskan tercatat sudah sebulan ini, sejumlah titik pemukiman rumah warga terendam air banjir.

“Kalau banjir itu sendiri itu sudah. Di bulan ini, genangan ini sudah kurang lebih satu bulan berjalan. Kalau sudah musim penghujan datang, sudah begini keadaannya. Sudah banjir,” Ujar dia saat ditemui di Kediamannya, Desa Lasembangi, Senin (26/2/2024).

Saba menjelaskan akibat banjir, aktivitas masyarakat sangat terbatas. Terlebih lagi bagi masyarakat yang rumahnya tergenang air. Selain itu, dampak dari Banjir tahunan di Lasembangi, pertanian khususnya sawah sangat terganggu.

“Karena memang posisinya mau keluar saja susah. Kemudian perihal yang lebih parah dari ini. Kalau hanya terkait menghambat aktivitas masyarakat dalam pemukiman. Di kampung, kami anggap hal biasa. Tetapi selama kajadian banjir yang sudah berlangsung selama ini juga mengganggu aktivitas pertanian khusus di sawah,” Jelasnya.

Lanjut, Kades menjelaskan banjir yang kerap melanda Desa Lasembangi mamang sangat merugikan para petani, sawah yang tadinya menjadi unggulan, saat ini sudah tidak bisa diandalkan lagi.

“Sejauh ini kalau saya mengamati, karena ada genangan banjir yang ada di desa ini sawah itu sudah hampir gagal total. Dari tahun-ketahun itu makin terpuruk. Itu kerugian masyarakat. Kalau taksiran nilai rupiahnya kami sudah tidak menafsir lagi,” Jelasnya.

Ia bercerita, dulu, ketika dirinya pertama kali tinggal di Desa Lasembangi sekira tahun 2005. Hasil produksi sawah terbilang melimpah. Bahkan ditahun itu hingga empat tahun terakhir dirinya tak pernah membeli beras.

Namun, saat ini sejak 4 tahun lalu, produksi sawah sudah tidak membuahkan hasil. Ini kemudian memaksa masyarakat untuk membeli beras guna keberlangsungan hidup.

“Tapi yang jelasnya sejauh ini khusus masyarakat Desa Lasembangi perbandingan-perbandingan dengan sebelumnya. Saya selama tinggal disini di 2005 sampai kurang lebih di empat tahun lalu, tidak pernah saya beli beras. Empat tahun terkhir ini. Sampai hari ini itu rata-rata bukan cuma saya, tetapi semua masyarakat Lasembangi itu pada umumnya beli beras,” Jelasnya.

Selain makan, banjir juga berdampak pada ketersediaan air bersih. Sumur-sumur warga dicemari banjir dan keruh.

“Ketersediaan air bersih juga sangat mengganggu. Karena ada beberapa blok itu di dusun Lasembangi dan dusun Ponda ketika banjir datang, kerena dari genangan, genangan tersebut melampaui sumur sehingga genangan tersebut masuk ke sumur-sumur masyarakat. Sisa dari pada itu juga tentunya ketika musim penghujan datang sumur itu berpotensi untuk tercemar,” Jelasnya.

“Untuk menutupi kebutuhan air bersih bagi masyarakat yang sadar perihal kesehatan mereka berupaya mengambil air dari sumur keluarga yang tidak tergenang oleh banjir. Tapi ada juga kalau masyarakat yang rajin pasca banjir. Sumur dikuras. Tapi sudah begitu kegiatannya. Minggu depan banjir, kuras lagi,” Sambungnya.

Lebih lanjut, untuk mengantisipasi banjir, langkah yang dilakukan pemerintah Desa kerap melakukan kerja bakti. Pembersihan saluran air dan sungai.

“Sejauh ini kalau langkah yang dilakukan oleh pemerintah kita masih biasa-biasa. Paling kita melakukan kerja bakti. Membersihkan sampah-sampah yang ada di sekitaran sungai,” Ujarnya.

Kades berharap, pengentasan banjir di Lasembangi harus dilakukan secara bersama-sama. Tidak hanya pemerintah Desa. Namun juga dibutuhkan peran dari semua stakeholder. Serta dukungan masyarakat. Khususnya bagi para pengrajin kayu yang kerap merambah hutan.

Akibat perambahan hutan, banyak pohon mati, ini berimbas berkurangnya kekokohan tanah bila hujan tiba, air yang mengalir dari perbukitan menuju sungai dengan mudah mengikis permukan tanah menuju saluran air dan sungai. Imbasnya terjadi pendangkalan sungai.

Hal itu menyebabkan air sungai menjadi full dan meluap menggenangi perumahan dan areal persawahan warga.

“Tetapi kalau dengan pola begini, selamanya juga tetap dengan kondisi seperti ini. Karena memang banjir ini selain dari curah hujan, juga adanya perambahan liar di kawasan hutan di sekitaran Desa Lasembangi,” Jelasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan langkah penghentian perambahan hutan ini, sejauh ini pemerintah Desa masi melakukan upaya persuasif. Memberikan edukasi menanamkan rasa kesadaran diri.

“Sejauh ini kita masih melakukan upaya persuasif yaitu mengedukasi masyarakat bagaimana tanamkan kesadaran kepada masyarakat kaitannya ruginya kita merambah hutan secara liar,” Jelasnya.

Hanya saja kata dia dalam upaya persuasif, masih banyak para perambah hutan bulan sadar, bahkan terjebak di pemikiran keliru. Sebab, banyak masyarakat beranggapan jika tidak merambah hutam mereka mau bekerja apa.? Penutupan perambahan hutan dipandang memutus mata pencarian mereka.

“Tetapi disatu sisi juga kita tertantang buruknya pemikiran masyarakat disini, kalau tidak merambah hutan mau kerja apa?,” Ujarnya.

“Kalau kita bandingkan kepada daerah-daerah lain, banyak daerah atau desa-desa yang tak punya hutan, justru perekonomian lebih maju. Intinya saya anggap ini pemikiran yang keliru. Mungkin bisa jadi dengan pemikiran-pemikiran seperti ini kita lembat untuk maju. Karena saya lihat di daerah-daerah yang tidak punya sumber daya alam mereka jauh lebih maju karena masyarakat lebih tertantang untuk bekerja. Kalau kita disini ini kita melihat kurang lebih kita dibuayi oleh alam. Dimanjakan oleh alam,” Sambungnya.

Tidak hanya itu, Saba berharap kepada pemerintah untuk ikut mengintervensi penanganan banjir ini. Khususnya yang berkaitan dengan kelestarian hutan untuk mengambil tindakan.

“Olehnya itu kami dari pemerintah Desa sebenarnya dengan hal ini kami mengharap juga kepada pemerintah khusus juga yang berkaitan dengan hutan juga mengambil tindakan. Karena kalau kami di pemerintahan desa serba salah. Mau larang bagaimana? Tidak larang juga bagaimana?,” Jelasnya.

“Disamping itu juga berharap kepada pemerintah, khususnya kehutanan dan kepolisian supaya mengambil langkah atau tindakan. Kerana kalau kami dari pemerintah Desa kaitannya dengan pelarangan, kami rasa diri juga kami tidak cukup kapasitas kesana,” Tandasnya.

Selain itu, Kades juga berharap agar pemerintah daerah turun tangan menangani bajir Lasembangi.

“Sejauh ini kami dari pemrintah desa berharap kepada pemerintah daerah supaya keadaan banjir di Lasembangi diperhatikan karena kami anggap ini bukan lagi bencana desa, tetapi sudah menjadi bencana daerah. Karena banjir ini kita sudah tau sama-sama. Tidak perlu lagi kita tanya kabar. Bagaimana terjadinya dan kapan terjadinya. Ini sudah dijadwal oleh alam. Jadi pemerintah tidak perlu bertanya lagi. Bagaimana banjirnya. Olehnya itu harapan kami, kalau bisa tolong pemerintah dipertimbangkan mungkin bisa ada tindakan-tindakan lebih yang kemudian bisa menangani persoalan banjir disini,” Tandasnya. (Gus)