BAUBAU,PANDUANRAKYAT.COM – Perum Bulog cabang Kota Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra) terbilang sukses melaksanakan penugasan yang berikan oleh pemerintah dalam rangka mendukung program swasembada pangan yang merupakan salah satu asta cita Presiden RI ke-8, Jenderal (Purn) Prabowo Subianto selama tahun 2025.
Kepala Perum Bulog Baubau, Hendra Dionisius menyebut, selama periode 2025, pihaknya membeli gabah sebanyak 30 ton, beras yang diserap jenis kualitas premium sekitar 1300 ton, serta jagung sebanyak 2,5 ton.
Dion menjelaskan, untuk beras, sumbernya ada dua yaitu pertama di wilayah kerja Bulog Baubau yakni di Baubau dan Kepulauan Buton. Kedua, pihaknya membeli atau pengadaan di wilayah daratan Sultra seperti di Kabupaten Konawe, Kolaka, dan sebagian di Kota Kendari.
“Kemudian, untuk cadangan jagung pemerintah itu selama 2025 kita menyerap 2,5 ton, lokasi di Kabupaten Buton. Itu semua penugasan dari pemerintah yang kami laksanakan dalam rangka mendukung swasembada pangan yang merupakan asta cita bapak Presiden Prabowo,” ungkap Hendra Dionisius, Rabu 14 Januari 2026.
Dion menyampaikan untuk beras yang masuk di wilayah kerja Baubau itu ada sekitar 200-300 ton dari petani di Ngkaring-karing. Untuk gabahnya juga semuanya dibeli dari petani Ngkaring-karing, dengan harga sesuai ketetapan pemerintah yakni gabah Rp 6.500 dengan any quality (Semua kualitas)
“Maknanya semua kualitas kita beli. Kemudian Bulog bekerja sama dengan mitra pengadaan pangan yang memiliki penggilingan padi atau masyarakat yang mempunyai fasilitas peralatan pengering atau MRMP. Kita kerja sama untuk mengeringkan gabah ini, kita giling, setelah digiling kita tarik ke gudang Bulog,” ungkapnya.
Sementara itu, untuk serapan beras sebanyak 200-300 ton harganya bervariasi mulai dari Rp 13.000, Rp 13.500, Rp 13.800 hingga Rp 14.000 sesuai kualitas seperti derajat soso, butir pecah (Broken), butir menir, dan kadar air. Terkecuali beras PSO, pihaknya mengikuti harga ketetuan yang ditetapkan oleh pemerintah yakni Rp 12.000. Sedangkan untuk jagung kuning atau pipil kring Bulog Baubau membeli di Kabupaten Buton juga menyesuaikan harga pemerintah yang terdiri dari dua sesuai kualitas yakni Rp 5.500, dan harga Rp 6.400.
“Kebetulan jagung yang di Kabupaten Buton setelah kita periksa masuk dalam kelompok harga Rp 5.500 karena kadar airnya yang masih tinggi, butir jamurnya masih tinggi. Jadi butuh proses pengolahan untuk membuat jagung itu menjadi standar sebelum kita simpan di gudang Bulog,” ujarnya.
“Biaya-biaya itu lah yang kita gunakan untuk memproses jagung itu sebelum masuk gudang karena hari ini jagung dari petani itu rata-rata kadar airnya di atas 20 persen. Sedangkan yang Rp 6.400 itu kadar airnya maksimal 14 persen. Jadi jagungnya sudah di pipil, kemudian sudah kering. Jadi kita simpan itu dalam bentuk biji jagung,” sambungnya.
Dion menambahkan pihaknya bekerja sama dengan dukungan TNI/Polri. Untuk gabah didukung TNI dan jagung didukung Polri. Bulog Baubau menyerap hasil panen jagung binaan Polres Buton diantaranya hasil petani dari Lasalimu. Bulog kemudian menurunkan tim untuk mengecek langsung mulai dari kualitas hingga nilai jual. Bila petaninya bersedia, maka Bulog Baubau akan langsung membelinya.
“Kalau petaninya bersedia, kita beli. Tapi kalau misalnya petaninya merasa harga pemerintah terlalu murah, atau ada pihak lain yang siap membeli lebih besar, ya kita tidak kejar. Yang penting jagungnya atau gabahnya tidak rusak, itu pasti kami beli. Kalau misalnya gabah sudah berkecambah atau sudah hitam terendam air, itu kita tidak beli karena menimbulkan kerugian untuk negara,” katanya.
Reporter : Ardilan

