PANDUANRAKYAT, BUTON-Masyarakat adat di Desa Wasuamba, Wasambaa, Kecamatan Lasalimu dan Desa Labuandiri, Kecamatan Siotapina, melakukan ritual adat dengan ziarah kemakam Sultan Buton Hiyamatudin Muhamad Saidi (O Puta Yi Koo/La Karambau) di Puncak Gunung Siotapina, Kabupaten Buton selama satu Minggu.
Sekira 700 warga mengikuti ritual adat yang dilaksanakan setiap tahun itu. Kali ini dimulai sejak Selasa 18- Selasa 25 Oktober 2022.
Bonto Wasuamba Desa Wasambaa, La Mangudu menceritakan pada hari pertama ritual, perjalanan menuju puncak Siotapina dilakukan terlebih dahulu oleh para sara tiap desa, lalu kemudian dihari berikutnya diikuti oleh masyarakat umum.
Dalam perjalanan tersebut, sara adat bermalam di dua tempat dilokasi persinggahan di mererkan menyebutnya Beto dan ae togena sebelum sampai di puncak Siotapina.
Diperjalan, dari perkampungan sampai dipuncak, perjalanan sara di iringi dengan suara pukulan gendang yang biasa di sebut Rambi. Begitu pun dengan perjalanan pulang.
Lanjut, La Mangudu menjelaskan dipuncak, kegiatan baru akan dilakukan ketika masyarakat tiba di puncak gunung, setelah tiba, baru lah masing-masing tokoh adat bersama masyarakat melakukan tugas dan tanggungjawabnya masing-masing.
“Kegiatan yang paling utama dari pertama yang di lakukan oleh sara itu adalah Tundupi bagi orang yang pertama kali menginjakkan kakinya di Bukit Sotapina/Lokasi Makam O Puta Yi Koo yang berlokasi di Pake-pakea atau di depan Pintu Gerbang/Lawana Kamaru dan itu wajib di lakukan di tiap-tiap Lawa/Pintu masuk oleh Tontau tetapi bagi yang sudah pernah itu tidak wajib lagi,”ujar dia saat ditemui Panduanrakyat.com dekat Makam Oputa Yi Koo, Selasa (25/10/2022).
“Tetapi jika ada yang naik kepuncak setelah pesamburea atau pembersihan tidak lagi di wajibkan prosesi Tundupi tadi karena Tundupi itu di lakukan sebelum pembersihan area makam dan seluruh puncak Siotapina,”tambahnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, dalam proses pembersihan itu diiringi dengan ganda jawa, kegiatan pembersihan itu adalah yang pertama kali di lakukan oleh seluruh masyarakat bersama tokoh adat yang berada di puncak Siotapinam.
Dihari kedua, porosesi yang dilakukan dipuncak gunung Siotpina, sara melakukan Tutura dalam prosesi tersebut di iringi dengan pukulan gendang dan tari-tariannya, Ganda Jawa, Tarian Tungka, Tarian Batanda/Ngibi, Pomunsei, Kangaru, serta Beladiri Mansa/Silat.
“Di hari ketiga itu merupakan puncak dari segala kegiatan ritual adat siotapina dan ziarah makam Sultan Oputa Yi Koo dengan melakukan Putar Payung,” tandasnya
Selaku Tontau La Ogo, ia berharap dengan ritual itu masyarakat menjaga hubungan dengan sang pencipta, Allah SWT. Serta menjaga silaturahmi sesama manusia. Dan juga terus menjaga adat istiadat, sesama tokoh dan masyarakat. Tidak lupa menjga hubungan baik dengan pemerintah.
“Saya selaku tokoh adat Wasuamba berharap kepedulian pemerintah terhadap meningkatnya animo masyarakat yang mengikuti ritual adat di puncak Siotapina serta ziara makam Pahlawan Nasional Yaitu Oputa Yi Koo/La Karambau biasa juga di sebut Sultan Hiyamatudin Muhamad Saidi yang ke 20 dan 23 untuk di buatkan tempat tinggal yang layak jika nanti datang ke Siotapina ini,” ucapnya
Sementara itu, Kepala Desa Wasambaa, Musrudin sangat mengapresiasi terhadap yang di lakukan oleh tokoh adat bersama masyarakat yang terus menjaga kelestarian budaya dengan terus melakukan ritual budaya di puncak Gunung Siotapina.
“Dalam acara ritual adat ini sangat bermakna karena di sini banyak yang bisa kita dapatkan mulai tatak ramah, kesopanan, saling menghargai dan masih banyak lagi yang lainnya” ucapnya pula di lokasi dekat makam OPuta Yi Koo.
“Saya selaku pemerintah Desa mewakili masyarakat dan sara mengucapkan terima kasih pada Pemerintah Provinsi Sultra mau pun Kabupaten Buton karena telah membuatkan jalan yang menuju Puncak Siotapina,” tambahnya.
Peliput: Toni Armin Syah

