Panduanrakyat
Politik

Pakai Metode Sainte Lague, Begini Cara Menghitung Perolehan Kursi DPR dan DPRD

PANDUANRAKYAT, JAKARTA – Sainte Lague merupakan metode untuk mengkonversi perolehan suara partai ke kursi di parlemen pada Pileg 2024.

Metode ini telah diatur berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (UU Pemilu).

Dalam Pemilihan Legislatif (Pileg), metode Sainte Lague digunakan untuk menentukan perolehan suara partai politik ke kursi di parlemen untuk DPR, DPRD provinsi, hingga DPRD kabupaten/kota. Berikut penjelasan lebih lanjut tentang metode Sainte Lague:

Apa Itu Metode Sainte Lague?

Mengutip dari situs resmi PPID Bawaslu, Sainte Lague adalah metode konversi perolehan suara partai politik ke kursi parlemen, atau metode untuk menentukan perolehan kursi partai politik di DPR hingga DPRD. Metode Sainte Lague berdasarkan perolehan suara terbanyak partai politik dari hasil pembagian diurutkan sesuai dengan jumlah ketersediaan kursi di setiap dapil.

Dasar hukum metode Sainte Lague adalah Pasal 415 ayat (2) UU Nomor 7 tahun 2017, bahwa “Dalam hal penghitungan perolehan kursi DPR, suara sah setiap partai politik yang memenuhi ambang batas perolehan suara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 414 ayat (1) dibagi dengan bilangan pembagi 1 dan diikuti secara berurutan oleh bilangan ganjil 3; 5; 7; dan seterusnya”.

Metode Sainte Lague menerapkan bilangan pembagi suara untuk mendapatkan kursi dengan angka ganjil, yakni mulai dari angka 1, 3, 5, 7, 9 dan seterusnya. Menurut sejarahnya, metode Sainte Lague atau Sainte-LaguĂ« method diperkenalkan pada tahun 1910 yang merupakan metode yang dikembangkan oleh ahli matematika asal Perancis bernama Andre Sainte Lague.

Penghitungan Metode Sainte Lague

Berikut contoh simulasi penghitungan menurut metode Sainte Lague atau metode konversi perolehan suara untuk kursi parlemen dalam suatu daerah pemilihan (dapil) jika terdapat 5 kursi:

Penentuan kursi pertama

Setiap partai yang sudah memenuhi ambang batas akan dibagi angka 1.

Partai A: 64.000 dibagi 1 = 64.000
Partai B: 18.000 dibagi 1 = 18.000
Partai C: 15.000 dibagi 1 = 15.000
Partai D: 8.600 dibagi 1 = 8.600
Partai E: 8.000 dibagi 1 = 8.000
Partai F: 7.600 dibagi 1 = 7.600

Berdasarkan hasil pembagian itu, Partai A akan mendapatkan kursi pertama di dapil tersebut.

Penentuan kursi kedua

Partai A yang sudah mendapatkan satu kursi selanjutnya akan dibagi dengan angka 3.

Partai A: 64.000 dibagi 3 = 21.333
Partai B: 18.000 dibagi 1 = 18.000
Partai C: 15.000 dibagi 1 = 15.000
Partai D: 8.600 dibagi 1 = 8.600
Partai E: 8.000 dibagi 1 = 8.000
Partai F: 7.600 dibagi 1 = 7.600

Partai A mendapatkan kursi kedua di dapil tersebut.

Penentuan kursi ketiga

Partai A yang sudah mendapatkan dua kursi selanjutnya akan dibagi dengan angka 5.

Partai A: 64.000 dibagi 5 = 12.800
Partai B: 18.000 dibagi 1 = 18.000
Partai C: 15.000 dibagi 1 = 15.000
Partai D: 8.600 dibagi 1 = 8.600
Partai E: 8.000 dibagi 1 = 8.000
Partai F: 7.600 dibagi 1 = 7.600

Partai B mendapatkan kursi ketiga di dapil tersebut.

Penentuan kursi keempat

Partai A dibagi dengan angka 5 dan Partai B dibagi angka 3.

Partai A: 64.000 dibagi 5 = 12.800
Partai B: 18.000 dibagi 3 = 6.000
Partai C: 15.000 dibagi 1 = 15.000
Partai D: 8.600 dibagi 1 = 8.600
Partai E: 8.000 dibagi 1 = 8.000
Partai F: 7.600 dibagi 1 = 7.600

Partai C mendapatkan kursi keempat di dapil tersebut.

Penentuan kursi kelima

Partai A dibagi dengan angka 5. Sedangkan Partai B dan Partai C dibagi angka 3.

Partai A: 64.000 dibagi 5 = 12.800
Partai B: 18.000 dibagi 3 = 6.000
Partai C: 15.000 dibagi 3 = 5.000
Partai D: 8.600 dibagi 1 = 8.600
Partai E: 8.000 dibagi 1 = 8.000
Partai F: 7.600 dibagi 1 = 7.600

Partai A mendapatkan kursi kelima

Berdasarkan perhitungan suara di atas, 5 kursi di dapil tersebut diberikan 3 kepada Partai A, 1 Partai B dan 1 Partai C.

Sumber: Detik.com