PANDUANRAKYAT, BAUBAU- Limbo Wolio Institute (LWI) resmi menyelesaikan produksi film dokumenter bertajuk “Jejak Kabhanti” Dokumentasi Tradisi Lisan Masyarakat Buton yang Hampir Punah, pada Jumat (31/10/2025).
Film ini merupakan bagian dari program Fasilitasi dan Apresiasi Komunitas Sastra Tahun 2025 yang bertujuan melestarikan warisan budaya takbenda melalui medium audio-visual.
Kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam upaya menyelamatkan Kabhanti, tradisi lisan khas Buton berupa syair dan puisi yang dilantunkan dengan irama khas dan mengandung nilai-nilai moral, sosial, serta spiritual. Dalam beberapa dekade terakhir, keberadaan Kabhanti mengalami penurunan drastis akibat modernisasi dan minimnya. regenerasi penutur.
Direktur Limbo Wolio Institute, La Ode Abdul Ghaniyu Siadi, menjelaskan bahwa film dokumenter ini berupaya merekam jejak Kabhanti dari sudut pandang para pelantun, budayawan, dan generasi muda.
“Kami ingin Kabhanti tidak hanya dikenang, tetapi juga dihidupkan kembali. Dokumenter ini menjadi arsip budaya sekaligus media edukasi bagi generasi Z agar mereka bisa memahami dan mencintai tradisi daerahnya sendiri,” ujar Ghaniyu.
Proses produksi film berlangsung sejak September 2025, diawali dengan Mini Workshop “Jejak Kabhanti: Melacak dan Merawat Identitas Masyarakat Buton” di SMK Negeri 3 Baubau dan MAN 1 Baubau. Kegiatan ini diikuti oleh puluhan siswa dan guru, menghadirkan narasumber utama Asri, salah satu praktisi Kabhanti yang masih aktif melantunkan syair-syair klasik Buton.
Setelah tahapan pra-produksi dan riset lapangan, tim produksi melakukan pengambilan. gambar di Benteng Keraton Buton serta sejumlah lokasi yang masih mempertahankan. tradisi Kabhanti. Dalam prosesnya, film ini melibatkan 8 kru, 7 pemain, konten kreator lokal, serta kelompok teater yang turut berpartisipasi dalam memperkuat visualisasi nilai-nilai budaya Buton.
Film dokumenter berdurasi sekitar 25 menit ini menampilkan narasi sejarah, filosofi, dan makna sosial Kabhanti dari berbagai perspektif mulai dari pelantun, akademisi, hingga pemerhati budaya.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, LWI menggelar Bedah Film “Jejak Kabhanti” di Aula Hotel Mira, Baubau, yang dihadiri lebih dari 60 peserta dari kalangan mahasiswa, budayawan, dan masyarakat umum. Acara ini menghadirkan narasumber seperti Keton (konten kreator lokal), La Ode Alirman (budayawan), Asri (praktisi Kabhanti), dan Ld. Munafi (akademisi Universitas Dayanu Ikhsanuddin).
Menurut Ghaniyu, dokumenter ini diharapkan dapat menjadi media pembelajaran dan arsip budaya yang bisa diakses masyarakat luas.
“Kami berencana menayangkan film ini di media sosial, festival film budaya, dan sekolah-sekolah agar lebih banyak orang mengenal Kabhanti. Ini bukan akhir, tapi awal dari gerakan pelestarian budaya lokal yang lebih luas,” tambahnya.
Melalui “Jejak Kabhanti”, Limbo Wolio Institute berharap tradisi lisan Buton tidak hanya menjadi kenangan masa lalu, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi masa depan kebudayaan Nusantara.(*)

