9PANDUANRAKYA, BAUBAU- Wali Kota Baubau, La Ode Ahmad Monianse menghadiri acara pasta adat “Kagasiano Liwu” di Kelurahan Labalawa, Kecamatan Betoambari pada Senin (21/8/2023).
Peningalan leluhur ini sempat tidak dilestarikan. Beruntung, masyarakat adat setempat mulai sadar pentingnya menjaga kekayaan intelektual peninggalan adat. Sehingga Pesta adat “Kagasiano Liwu” yang saat ini telah dihidupkan kembali oleh Masyarakat Labalawa Kecamatan Betoambari setelah sekian puluh tahun tertidur rencananya oleh Pemkot Baubau akan dijadikan sebagai agenda rutin pariwisata.

Pada penyelengaraan pesta adat ini, Ratusan warga Kelurahan Labalawa, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, menggelar tradisi tua Kagasiano Liwu yang sudah berusia ratusan tahun. Tradisi ini baru digelar kembali setelah 63 tahun sejak mangkatnya Sultan Buton ke 38 Muhammad Falihi.
Tradisi Kagasiano Liwu dilaksanakan selama 40 hari yang diawali dengan berbagai kegiatan permainan kuno, seperti sepak raga, Kalengko atau permainan tempurung kelapa yang dimainkan kaum wanita dan kegiatan adat lainnya.
Sejak pagi buta, warga Labalawa sudah mulai mempersiapkan makanan yang akan di isi ke dalam perahu kecil, perahui ini dibuat di rumah-rumah warga yang dilakukan secara gotong royong. Para kaum ibu dan gadis-gadis Labalawa dengan cekatan membuat dan mengolah makanan khas tradisional warisan leluhur, seperti Onde-onde, Waje, Baruasa, Lapa-lapa dan masih banyak lagi makanan lainnya.

Sementara kaum lelaki mempersiapkan perahu yang dibuat dari kayu. Setelah semuanya siap, delapan perahu itu kemudian diarak warga sejauh 1 km untuk dibawa ke Galampa atau balai adat dengan diiringi tabuhan gendang dan gong kecil. Seluruh warga yang menjadi peserta pembawa perahu mengenakan pakaian adat setempat.
Ratusan warga Labalawa terlihat sangat antusias mengikuti tradisi warisan leluhur mereka. Mulai dari anak-anak hingga orang tua berbondong-bondong menuju Galampa atau Balai adat mengikuti arak-arakan perahu. Setibanya di Galampa, perahu-perahu itu diarak mengelilingi sebuah makam leluhur yang merupakan tokoh penting dalam sejarah berdirinya kerajaan Buton bernama Dungku Changia yang merupakan panglima perang dari pasukan kerajaan Mongolia.

Menurut pemerhati budaya Labawala, Safaruddin, delapan perahu yang diarak warga mengandung filosofi perjuangan leluhur dalam membangun peradaban baru yang penuh dengan tantangan.
“Di dalam perahu itu diisi berbagai makanan yang mengandung arti kemakmuran bagi masyarakat,” jelas Safaruddin, Senin (21/8/2023).
Tradisi Kagasiano Liwu ini juga ditampilkan tari-tarian tua yang masih dilestarikan hingga sekarang. Tradisi ini diakhiri dengan acara makan bersama. Namun ada yang unik dalam acara makan ini, keseruan warga berebut makanan yang ada di dalam perahu untuk menjadi santap siang.
Dukungan untuk melestarikan tradisi Kagasiano Liwu ini juga disampaikan Lurah Labawala, Jalaluddin, dalam kesempatan tersebut, Lurah Labalawa mengusulkan ke Walikota Baubau, La Ode Ahmad Monianse yang turut hadir dalam kegiatan tersebut bahwa kegiatan ini akan dimasukkan dalam agenda tahunan Kota Baubau.

“Kami sudah menyampaikan ke Walikota Baubau mengusulkan untuk tradisi Kagasiano Liwu ini akan dijadikan agenda tahunan,” ungkapnya.
Menyahuti keinginan masyarakat adat setempat, Wali Kota Baubau La Ode Ahmad Monianse menjelaskan pelaksanaan pesta adat Kagasiano Liwu oleh masyarakat Labalawa yang nantinya menjadi agenda rutin Pemkot Baubau haruslah memperhatikan beberapa hal untuk dipertimbangkan yakni pertama, pelaksanaannya disesuaikan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Baubau sehingga tempat dan waktunya tinggal di sesuaikan dengan agenda pesta adat lain seperti di Kecamatan Surawolio dan kampung-kampung lain termasuk Batupuaro, Kanakea, Kaobula yang masing-masing akan selalu diselenggarakan ritual adat.
Dikatakan, penyesuaian agenda pesta adat masing-masing kampung yang memiliki keunggulan budaya tersebut dengan HUT Kota Baubau dimaksudkan agar menjadi salah satu tempat tujuan wisata buat orang yang datang ke Baubau bersamaan dengan HUT Kota Baubau.

“Agar dipertimbangkan teman-teman di Bappeda. Satu hal yang perlu kita tuntaskan yaitu status kepemilikian tanah. Ini segera mungkin harus clear jangan sampai kita sudah bersemangat membangun kebudayaan kita, membangun destinasi, kemudian kita terkendala dengan yang komplain sebagai tanah milik orang. Sehingga harus clear dari awal bahwa itu benar milik masyarakat adat untuk segera tersertifikasi tidak menjadi milik pribadi agar kedepan dengan adanya atraksi kebudayaan tidak lagi diperoalkan.,”katanya.
Ditambahkan, ritual adat Kagasiano Liwu di Labalawa yang dapat di jadikan sebagai kalender pariwisata di Kota Baubau merupakan awal yang baik untuk terus dilestarikan untuk mengenang betapa besarnya, betapa agungnya para pendiri Labalawa yang pada akhirnya melahirkan sebuah kerajaan besar dimasa lalu. Kemudian, untuk hari ini dinikmati sebagai sebah tempat yang layak sebagai pengingat untuk memakmurkan negeri. (*)

