BAUBAU,PANDUANRAKYAT.COM – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra) mengklaim pihaknya sudah cukup berhasil dalam hal pengelolaan sampah.
Kepala UPTD Persampahan DLH Baubau, Anisa menyebut, salah satu program yang dinilai berhasil dalam pengelolaan sampah adalah pengelolaan sampah kapal melalui Bank Sampah PELNI di Kelurahan Kadolokatapi Kecamatan Wolio.
Dari sampah kapal yang didominasi plastik, sebagian besar dapat dipilah dan didaur ulang sehingga residu yang masuk ke TPA hanya tersisa kurang dari 10%.
“Kalau sampah kapal itu sekitar 90 persen berupa plastik. Dipilah di bank sampah, kemudian residunya yang dibawa ke TPA. Residu yang tersisa tidak sampai 10 persen,” ungkap Anisa ditemui belum lama ini.
Selain itu, pengolahan sampah organik menjadi kompos di Pasar Wameo turut membantu menekan volume sampah yang masuk ke TPA.
Anisa mengungkapkan, sejauh ini pihaknya juga menggandeng perusahaan lain, seperti PLTMG, pusat perbelanjaan, dan pelaku usaha besar untuk mengelola sampah melalui bank sampah maupun pihak ketiga. Skema ini memungkinkan sampah yang masih memiliki nilai ekonomis didaur ulang tanpa harus dibuang ke TPA.
DLH juga meminta kesadaran instansi vertikal di daerah eks pusat Kesultanan Buton ini untuk ikut berperan memberi kontribusi berupa retribusi sampah yang dinilai masih kurang. Pihak DLH pun terus mengimbau agar masyarakat secara sadar mulai memilah sampah dari rumah. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi beban TPA sekaligus meningkatkan jumlah sampah yang bisa didaur ulang.
Anisa mengaku, volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kota Baubau saat ini menurun dari sekitar 81 ton per hari pada 2025 menjadi 60-70 ton per hari pada 2026. Hal ini terjadi karena pihaknya terus mendorong program pemilahan dan pengolahan sampah wilayah sebelum dibuang ke TPA. Sebab, kebijakan tersebut sejalan dengan arahan pemerintah pusat agar sampah dipilah dan diolah terlebih dahulu sehingga hanya residu yang masuk ke TPA.
“Jadi harus ada tempat pemilah dulu. Sampah tidak harus semuanya masuk ke TPA,” ujarnya.
Menurutnya, sampah idealnya dikelola melalui bank sampah, TPS 3R, rumah kompos, atau Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). Namun hingga kini Baubau belum memiliki TPST sehingga DLH terus memperkuat kerja sama dengan berbagai pihak untuk mengurangi sampah yang langsung dibuang ke TPA.
Ia menambahkan pengurangan sampah perlu terus ditingkatkan. Saat ini hanya TPA Baubau dan Kendari yang masih tergolong aman beroperasi di Sultra. DLH juga berharap dukungan fasilitas pengelolaan sampah dapat diperkuat. Idealnya, setiap kelurahan memiliki bank sampah, sementara setiap kecamatan dilengkapi TPS 3R atau TPST sebagai pusat pemilahan dan pengolahan sampah.
DLH Baubau menargetkan pengurangan sampah yang masuk ke TPA mencapai 70% sesuai Kebijakan dan Strategi Daerah (Jakstrada) Pengelolaan Sampah. Dalam jangka panjang, pemerintah menargetkan konsep zero waste, yaitu seluruh sampah diolah sehingga tidak lagi berakhir di TPA.
Reporter : Ardilan

