PANDUANRAKYAT, BAUBAU- Wali Kota Baubau La Ode Ahmad Monianse berharap masyarakat adat Buton tidak mempolemikkan revitalisasi Baruga Keraton Buton. Hal itu dikatannya saat memimpin rapat bersama melalui zoom meeting membahas tentang revitalisasi gedung Baruga Keraton, Selasa (25/7/2023).
Pada kesempatan itu Monianse menjelaskan sebenarnya pada saat ini bukan saatnya lagi memperdebatkan revitalisasi Baruga Keraton Buton mana yang harus digunakan dan mana yang tidak.

Karena sudah melewati banyak proses konsolidasi pemikiran sehingga hadir konsep yang benar-benar mewakili dinamika sosial kemasyarakatan, kebudayaan dan berlaraskan pada perundang-undangan yang berlaku.
Sehingga diharapkan diskusi tentang konsep itu sudah selesai dan harus sudah melangkah pada pelaksanaan. Untuk membangun Baruga telah ada landasan hukum yang jelas, telah dikaji dari segi landasan hukum, dari segi dinamika sosial kemasyarakatan, sejarah dan kebudayaannya. Itu semua sudah tuntas dan tahapan-tahapan itu dihargai.
Apalagi, kata dia 6tahapan panjang sejak hadirnya Presiden RI Joko Widodo di bulan September tahun 2022 lalu kemudian ditindaklanjuti dengan tahapan-tahapan yang terukur sampai dengan keluarnya desain. Olehnya itu Pemerintah Kota (Pemkot) Baubau berharap untuk tidak mempolemikkan lagi konsep yang sudah dilahirkan oleh proses panel tersebut.
Wali Kota Baubau La Ode Ahmad Monianse memberikan himbauan itu menyusul banyak penolakan dari berbagai unsur masyarakat. Seperti halnya, Forum Komunikasi Benteng Wolio bersama sejumlah komunitas membacakan pernyataan sikap menolak rencana revitalisasi baruga Keraton Buton menggunakan bahan beton pada Senin malam, lima Komunitas masyarakat yang berada di kawasan adat Keraton Wolio pun, temui Pimpinan DPRD Baubau, Selasa (14/3/2023).

Pertemuan dengan Wakil Ketua DPRD Kamil Adi Karim itu bermaksud untuk menyampaikan secara langsung unek-unek bahwa kelima Komunitas menolak pembangunan baruga dengan bahan dasar beton sebagaimana pernyataan gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) Ali Mazi di Baubau, belum lama ini.
Ketua Forum Komunikasi Benteng Wolio, Harmin Rahmat mengatakan kedatangan kelima komunitas di DPRD juga sekaligus memasukan dokumen surat yang berisi pernyataan sikap. Harapannya, menjadi pertimbangan seluruh wakil rakyat untuk ikut mengantisipasi dan memberikan masukan kepada pemerintah, sehingga harapan masyarakat di kawasan benteng keraton bisa terwujudkan.
“Adapun isi suratnya itu terdiri dua tuntutan. Pertama, menolak revitalisasi Baruga Keraton menggunakan bahan beton. Dan kedua, mendukung revitalisasi Baruga Keraton dengan memperhatikan unsur-unsur kearifan lokal dan pelestarian cagar budaya,” kata Harmin.

Sementara itu Wakil Ketua DPRD Kamil Adi Karim memberikan respon positif terhadap substansi pernyataan sikap itu, karena masyarakat di dalam kawasan benteng masih memiliki kepedulian terhadap kelestarian dan budaya lokal. Diapun mengaku memiliki pemikiran yang sama, bahwa Baruga Wolio mestinya dibangun dengan bahan dasar kayu.
“Sangat respon dengan pemikiran-pemikiran mereka karena membawa informasi yang mungkin juga ada benarnya,” ungkap Kamil Adi Karim saat ditemui diruang kerjanya, Selasa (14/3/2023).
Dikatakan, rencana betonisasi baruga sesuai usulan desain Pemerintah Provinsi Sultra itu bertolak dari pemikiran sulitnya mendapatkan kayu kualitas terbaik. Sehingga meski menggunakan beton namun bangunan baruga dibuat sedemikian rupa menyerupai kayu tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya.

Namun lanjut Kamil, jika ada informasi dari masyarakat yang mengetahui mengenai keberadaan kayu-kayu kualitas terbaik di tanah Buton ini, bisa disampaikan untuk menjadi masukan yang baik dan menjadi pertimbangan pemerintah.
“Kalau memang ada, nanti di lihat dimana tempatnya, baru dihitung berapa kebutuhan untuk pembangunan baruga, apakah persediaannya cukup. Kalau mencukupi syukur Alhamdulillah, Gubernur juga pasti akan bahagia,” tambahnya.
Politisi PAN ini menyebut akan menindak lanjuti isi pernyataan sikap warga di dalam kawasan benteng Wolio itu dalam rapat-rapat kerja bersama Pemerintah. (*)

