PANDUANRAKYAT, BAUBAU- Ritual “Pekandeana Anana Maelu” adalah ritual adat dari Kesultanan Buton sejak dahulu kala dalam rangka memperingati hari asura 10 muharam, dimana masyarakat Buton biasanya mengambil 10 muharam itu sebagai hari untuk membesarkan dan memberikan kegembiraan kepada anak anak yatim.
Demikian pula dengan Pemkot Baubau kegiatan ini dilaksanakan setiap tahun, dan baru beberapa tahun terakhir dilaksanakan di lingkup Pemkot Baubau seperti yang dilakukan pada Jumat pagi (28/7/2023) di rujab Wali Kota Baubau Pemkot Baubau melaksanakan Pekandeana Anana Maelu.

Wali Kota Baubau La Ode Ahmad Monianse kepada sejumlah media mengungkapkan, biasanya Pakandeana Anana Maelu dilaksanakan tiap-tiap rumah di masyarakat yang ingin menggembirakan anak yatim. Dan beberapa tahun terakhir Pemkot Baubau berinisiatif untuk melaksanakan di rujab Wali Kota Baubau sebagai bentuk komitmen Pemkot Baubau untuk memberikan perhatian kepada anak-anak yatim agar mereka juga bisa bergembira, mendapatkan support dan punya semangat hidup.
Karena bagaimana pun mereka adalah generasi bangsa yang harus berperan di masa akan datang. Jadi berikan ruang-ruang yang sama sebagai bentuk perhatian Pemkot Baubau.
Dikatakan, tradisi Pakandeana Anana Maelu sudah dilakukan sejak ratusan tahun yang lalu dan ini merupakan kewajiban bagi seluruh dermawan untuk sehari penuh memberikan kebahagiaan kepada anak yatim piatu.

Namun demikian , sesungguhnya Pakandeana Anana Maelu bukan hanya sekedar menyantuni dengan memberikan bingkisan tapi lebih dari itu dianjurkan memberi pendidikan yang layak kepada anakk-anak yatim piatu. Dan intinya adalah memberi rasa yang sama jika mereka memiliki saudara juga orang tua.
Tampak hadir pada ritual Pakandeana Anana Maelu di rujab Wali Kota Baubau yakni Ketua TP PKK Kota Baubau Wa Ode Nursanti Monianse, Pj Sekda Kota Baubau Sitti Munawar, S.STP, M.Si, Asisten III La Ode Darussalam, S.Sos, M.Si, beberapa kepala OPD dan Kabag Setda Kota Baubau serta Camat, dan juga perangkat masjid agung keraton Buton.
Sementara itu, Sebanyak 200 anak yatim piatu ikuti tradisi “Pakandeana Ana-ana Maelu” atau menyantuni anak yatim piatu sebagai tradisi adat budaya Kesultanan Buton setiap tanggal 10 Muharam. Dan 10 Muharam 1445 Hijriah tahun ini tepat pada hari Jumat 28 Juli 2023.

Salah satu warga Kelurahan Kadolomoko Kecamatan Kokalukuna Baubau, La Ode Muh. Kariu, Jumat, mengatakan terhitung sudah 40 kali ritual tersebut dilakukan. Kali ini 200 anak yatim piatu usia balita hingga 13 tahun terdaftar dalam agenda tahunannya.
“Kegiatan ini merupakan tradisi mulia untuk memotivasi kita agar mengingat anak yatim piatu, karena kita ketahui anak yatim piatu adalah anak yang telah ditinggalkan orang tuanya, dan kewajiban kita umat Islam memperhatikan anak yatim piatu,” tuturnya.
Lakina Agama Mesjid Agung Kesultanan Buton itu mengatakan tradisi yang dijalankan turun temurun sejak tahun 1980 an tersebut dimulai dengan memandikan anak yatim.
Air yang digunakan untuk memandikan anak yatim di pagi hari itu disebut air Asyura merupakan rendaman bunga cempaka putih, kamba lagi, kamba mpu dan kamba manuru, dibungkus kain putih dan direndam tengah malam tepat 10 Muharram.

Setelahnya dilanjutkan dengan mengusap ubun-ubun anak yatim piatu sebanyak tiga kali menggunakan minyak gowa. Minyak gowa tersebut berasal dari campuran minyak zaitun dan parutan jeruk purut.
Terdapat tiga kali usapan penuh makna, usapan pertama isyarat memohon kepada Allah umur yang berkah, selanjutnya memohon rezeki yang halal serta memohon iman yang kokoh dalam Islam.
Setelah mengusap rambut dengan lemah lembut dilanjutkan memberi makan para anak yatim piatu secara bergantian dengan cara disuapi sehingga para anak yatim merasa masih memiliki orang tua utuh.
Tahapan selanjutnya, anak-anak tersebut akan didoakan agar dilimpahkan umur panjang, rezeki halal, ditetapkan iman dan Islam dalam diri serta menjadi anak terbaik dan berguna di masa mendatang.*

