PANDUANRAKYAT, BAUBAU- Wali Kota Baubau La Ode Ahmad Monianse memimpin Upacara Penerimaan Tamu Ambalan Gerakan Pramuka Gudep Diponegoro. Upacara dilaksanakan di halaman kantor SMPN 18 Baubau, Sabtu (29/7/2023).
Pelajar SMPN 18 yang tergabung dalam Gudep Diponegoro melaksanakan kemah bersama satu malam di halaman kantor sekolah tersebut dalam rangka menyambut anggota baru pramuka,
Wali Kota Baubau, La Ode Ahmad Monianse saat memberikan sambutan pada perkemahan tersebut meminta anggota baru lebih memahami pramuka.
“Sebab, pramuka bukan hanya sekedar berkemah tetapi akan berinteraksi dengan senior dan pembina untuk lebih mendalami makna dari pramuka itu sendiri,”tutur Ahmad Monianse.

Dikatakan, setiap anggota pramuka yang sudah mendengarkan pengucapan dasar dharma pramuka didahului pembakaran api unggun, maka sudah harus menjunjung kode etik anggota pramuka yang menjadi landasan bertindak, bersikap, berperilaku, dan berfikir.
‘Karena itu, dasar dharma pramuka harus dihafal oleh setiap anggota pramuka tidak terkecuali dengan Gudep Diponegoro,”ujarnya.
Wali Kota mengatakan, pramuka merupakan satu lembaga yang masuk dalam ekstra kurikuler atau suatu wadah untuk memberikan tempat bagi pelajar dalam mengimplementasikan sebanyak-banyaknya moral dasar dan perilaku.

“Dalam lembaga ini kalian digodok dan dilatih, setelah menjadi anggota pramuka adik-adik sekalian dapat menjadi manusia yang tangguh dan paripurna dari sisi kecerdasan dan kode etik. Karena itu jangan sia-siakan jika diberikan kesempatan untuk berlatih di pramuka,”tutupnya.
Dikutip dari laman resmi Pramuka, sebelum menggema di Indonesia, pramuka telah berkembang terlebih dahulu di Inggris lewat pembinaan remaja yang dilakukan oleh Lord Robert Baden Powell of Gilwell.
Powell diketahui memiliki banyak pengalaman yang berpengaruh pada kegiatan di dalam Pramuka seperti pengalaman mengalahkan kerajaan Zulu di Afrika, keterampilan berlayar, berenang, berkemah dan masih banyak lainnya. Pengalaman itu ditulis Powell dalam sebuah buku berjudul ‘Aids to Scouting’. Buku itu yang menjadi panduan bagi tentara muda Inggris untuk melakukan tugasnya. Kemudian pimpinan Boys Brigade di Inggris meminta Powell untuk melatih anggotanya berdasarkan pengalamannya. Pada 1908, Powell kembali menulis buku yang berisi pengalamannya tentang latihan kepramukaan. Buku ini berjudul ‘Scouting for Boy’ dan kemudian menyebar dengan cepat di Inggris dan negara lain, termasuk Indonesia.

Pelopor gerakan kepanduan di Indonesia diawali dengan berdirinya Nederlandsche Padvinders Organisatie (NPO) yang kemudian berubah menjadi Nederlands Indische Padvinders. Pada 1916, S.P Mangkunegara VII membuat organisasi kepanduan sendiri di tanah air, tanpa campur tangan dari Belanda.
Organisasi itu diberi nama Javaansche Padvinders Organisatie (JPO) dan merupakan organisasi kepanduan yang pertama di tanah nusantara. Lahirnya JPO menjadi penyemangat berdirinya organisasi kepanduan lain di Indonesia pada saat itu.
Pada masa penjajahan Jepang, organisasi kepanduan dan partai dilarang untuk beraktivitas. Barulah pada September 1945 sejumlah tokoh dari gerakan kepanduan Indonesia berkumpul untuk melakukan pertemuan di Yogyakarta. Dari hasil kongres pada 27-29 September 1945 terbentuk Pandu Rakyat Indonesia.

Kehadiran Gerakan Pramuka di Indonesia mendapat tempat penting di Indonesia bertolak pada ketetapan MPRS No. II/ MPRS/ 1960. Presiden Sukarno memberikan amanat kepada pimpinan pandu di Istana merdeka pada 9 Maret 1961. Amanat itu untuk lebih mengefektifkan kepanduan sebagai komponen penting dalam pembangunan5 bangsa.
Lambang Pramuka berupa Tunas Kelapa yang kita ketahui saat ini disahkan dalam Keppres Nomor 238 Tahun 1961. Kemudian pada 14 Agustus 1961, secara resmi Gerakan Pramuka diperkenalkan kepada masyarakat setelah Presiden Sukarno menganugerahkan Panji Gerakan Pramuka dengan Keppres Nomor 448 Tahun 1961. (*)

