PANDUANRAKYAT, BUTON-Penjabat (Pj) Bupati Buton, Drs. Basiran M. Si membuka pelatihan peningkatan inovasi dan higienitas sajian kuliner yang diselenggarakan dinas pariwisata di Dive Center, Banabungi, Pasarwajo, Sabtu (17/9/2022).
Giat yang berlangsung selama empat hari itu menghadirkan pelatih asal Bandung sebanyak empat orang untuk membagikan ilmu dan pengalaman kepada 40 orang peserta yang terdiri dari pelaku usaha kuliner dan oleh-oleh yang ada di sekitar destinasi wisata di desa dan Kelurahan di Kecamatan Pasarwajo.

Hadir dalam acara ini, Ketua DPRD Buton, Hariasi Salad SH, Sekab Buton, Asnawi Jamaludin dan Camat Pasarwajo, Amruddin.
Dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buton, Rusdi Nudi menjelaskan kegiatan ini adalah kegiatan pelatihan dalam rangkaian yang didukung oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia melalui DAK non fisik.
“Penyelenggaraannya kami laksanakan di device center ini kami perlu laporkan bahwa di Dive center inilah salah satu yang berkontribusi PAD dalam sektor pariwisata,” jelasnya.
Ia menjelaskan seluruh fasilitas yang ada di sini adalah masi murni berdasarkan bantuan APBN. Namun di dua tahun terakhir ini sempat terhenti akibat Kabupaten Buton tidak masuk dalam lopri, lokasi prioritas yang dimulai dengan dua tahun lalu ketika kementerian pariwisata membangunan pariwisata ke Mandalika.
“Kita akan mencoba untuk di tahun berikutnya, namun demikian kita bisa menyelesaikan drive center ini dengan APBD karena tinggal kita membuat paving di bawah itu paving blok itu sudah bisa kita menyiapkan layanan kepada pengunjung,” jelasnya.

Ia menjelaskan salah satu pengunjung yang dimaksud, mereka para turis, bule dengan aktivitas para pelayar kapal-kapal yach yang datang setiap Agustus. Sentra aktivitasnya dilakukan di deve center Pasarwajo.
Lebih lanjut, ia menjelaskan pelatihan ini juga sebagai persiapan jangka pendek menyambut Porprov 2022 di Kabupaten Buton.
“Jadi inilah menjadi salah satu yang ada di ibu kota Kami Perlu laporkan bahwa kegiatan yang pelatihan ini kami mendata sendiri semua yang memiliki warung mulai dari ujung Wakoko sana sampai dengan di Donggala- Kondowa itu tim kami sendiri yang turun dan kami ingin bahwa ini menjadi basis data kita dalam jangka pendek Kita menyambut porprov 2022 kita sudah siap bahwa kita sudah bisa menyajikan makanan yang sesuai dengan harapan pengunjung karena apa yang kita miliki hari ini kita memiliki Khasanah kuliner yang cukup luar biasa tapi kita baru standar, heginisnya standar, standar haroa,” jelasnya.
Selain itu, ia berharap teman-teman pelaku usaha harus memotivasi diri, karena Buton adalah punya ngga utama Wakatobi, yanga mana menteri pariwisata pada beberapa waktu lalu saat berberkunjung di Buto, telah merasakan sendiri bahwa akses terdekat ke Wakatobi adalah Buton

“Pelabuhan Banabungi ini harus kita raih kalau kita hanya melihatnya dia melintas kita harus Rai sesuai dengan pola pengembangan pariwisata kita di Kabupaten Buton,” jelasnya.
Tidak hanya itu, ia menjelaskan dalam pengembangan wisata di Buton, perlu dilaporkan bahwa untuk kawasan Wabula-Wasumba itu pengembangan pariwisatanya berbasis budaya dan berbasis tenunan sedangkan di Pasarwajo adalah pengembangan pariwisata wisata Teluk berbasis kuliner.
“Makanya pada dua pelatihan sebelumnya untuk yang penjual jajanan yang di Kalibiru dan leter Buton itu kita sudah memberi pelatihan kepada mereka yang belum kami sentuh adalah warung-warung makan yang hari ini kami undang mereka dengan beberapa penjual outlet-outlet yang ada di deretan kawasan Pasar Wajo ini ini semua kita siapkan karena salah satu komponen penting di pariwisata itu adalah kuliner dipastikan kita pun kalau ke tempat lain pasti kita tanyakan pertama kita makan di mana Dan kita pulang kita bawa apa oleh-olehnya,” jelasnya.

Sementara itu, Penjabat Bupati Buton, Basiran menjelaskan patut disyukuri Kementerian Pariwisata dan Ekonomi kmKreatif Republik Indonesia memberikan dana alokasi khusus untuk kegiatan ini dimana satu persoalan di Kabupaten Buton khususnya ibukota kabupaten di Pasarwajo adalah orang yang berkunjung ke sini selalu kebingungan mencari tempat makan yang enak.
“Bagaimana menunya termasuk bagaimana kita menyajikan,” jelasnya.
Selain itu, Basiran juga menilai salah satu kendala kuliner terlebih lagi kuliner tradisional belum ada pembungkus produk yang bagus.
“Makanan tradisional kita ini belum ada apa namanya, apa pembungkus yang bagus kalau begini kan kalau kita jual mungkin kena debu apa jadi kualitasnya memang perlu diperbaiki tapi ke depan Insyaallah yakin dan percaya setelah beberapa kali pelatihan apalagi hari ini dilatih semala 4 hari ya Pak kadis, dua hari praktek,” jelasnya.

Menurut Basiran, kunci utama dalam memasak itu intinya adalah ketulusan hati, memasak apapun ketulusan hati akan mempengaruhi bagaimana nikmat rasanya makan.
Lebih lanjut, ia menjelaskan terkait pengembangan industri kuliner atau pariwisata di ibu kota ini, Basiran memaksa semua pegawai untuk tinggal di Pasarwajo. Dengan begitu diyaniki perputaran ekonomi di Pasarwajo akan meningkat.

“Sehingga harga rumah kos-kosan di Pasarwajo mulai naik karena permintaan semakin banyak ya kan, yang jual ikan jual itu dijual sudah mulai ada, karena pegawai pagi-pagi sudah pergi belanja itu adalah bagian strategi seorang pemimpin untuk Bagaimana menghidupkan ekonomi masyarakatnya. Saya tidak butuh orang Baubau yang hanya datang cari gaji di Buton,” tandasnya.

