Panduanrakyat
Buton

Setahun Jadi Sekolah Ramah Anak, La Boy Klaim Karakter Siswa SDN 32 Buton Berubah 80 Persen

PANDUANRAKYAT, BUTON- Sekolah Dasar Negeri 32 Buton di Kamaru, Kecamatan Lasalimu, Kabupaten Buton berkomitmen dalam membangun serta mewujudkan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi seluruh peserta didik melalui penguatan program Sekolah Ramah Anak (SRA).

Berbagai langkah strategis disiapkan untuk memastikan SD menjadi tempat tumbuh kembang yang positif sekaligus mendukung pemenuhan hak-hak anak di bidang pendidikan.

Kepala Sekolah Dasar Negeri 32 Buton, La Boy S.Pd menjelaskan sekolah yang dipimpin mulai menerapkan program Sekolah Ramah Anak sejak Juli 2025. Program ini muncul setelah adanya siswa dirundung kasus Bullying pada Juni 2025 lalu.

Dengan adanya bullying itu, kepala dinas pendidikan Kabupaten Buton dan Dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak sepakat menjadikan sekolah dasar di Kamaru menjadi sekolah ramah anak.

Ia menjelaskan setelah setahun menerapkan sekolah ramah anak, karakter anak didiknya berubah drastis hingga 80 persen yang tadinya masih banyak terjadi bullying sekarang sudah berubah dan ramah.

Kata dia, implementasi Sekolah Ramah Anak bukan sekadar program formalitas, tetapi merupakan bagian dari budaya yang menjunjung nilai-nilai kepedulian, kesetaraan, dan perlindungan terhadap peserta didik.

“Sejak Juli 2025 kita jadikan ini Sekolah menjadi sekolah ramah anak. Alhamdulillah tingkat perubahannya anak-anak sudah 80 persen dibanding dengan sebelum-sebelumnya. Kemudian juga guru-gurunya juga sudah aktif bagaimana cara agar anak-anak ini mereka patuh pada aturan. Patuh kepada adat dan istiadat sesuai dengan kondisi yang ada di wilayah hukum adat Kamaru,” Ujar dia kepada Panduanrakyat.com di Kantornya, Senin (6/7/2026).

Lanjut, Boy menjelaskan dalam menerapkan sekolah ramah anak, perlu adanya langkah-langkah strategis yang dapat diterapkan secara langsung dan memberikan dampak terhadap kehidupan siswa-siswi SDN Kamaru secara terus menerus, membentuk karakter dan berakhlak mulia sesuai dengan nilai-nilai adat istiadat dan Islam.

Ia menegaskan bahwa Sekolah Ramah Anak harus mampu menumbuhkan budaya saling menghormati, disiplin positif, serta kepedulian terhadap sesama.

Selain itu, sekolah juga akan mengadakan sosialisasi kepada seluruh warga sekolah mengenai pentingnya nilai-nilai empati, toleransi, dan pencegahan perundungan.

Selain itu, pihaknya juga berencana memperkuat kolaborasi dengan orang tua dan pihak terkait. Kegiatan pendampingan dan pelatihan juga akan menjadi fokus utama agar seluruh tenaga pendidik memahami prinsip-prinsip sekolah ramah anak secara menyeluruh.

Lebih lanjut, ia menjelaskan di SDN Kamaru kasus perundangan biasa terjadi dengan modus minta uang. Sehingga aksi ini kerap memicu perkelahian.

“Kemudian yang kedua biasanya anak-anak disini berkelahi karena sering minta-minta uang sehingga membuat mereka lalai sehingga terjadi pertengkaran. Alhamdulillah dengan adanya sekolah ramah anak semua kita terapkan, kita robah, jangan lagi ada anak-anak yang saling pajak-pajak teman. Itu kita sudah hindari. Dan juga anak-anak sudah tidak lakukan itu. Dan juga sudah tidak mengejek dengan bahasa yang tidak mengenakan satu sama lain. Dan juga selalu mengutamakan kata-kata yang menyenangkan dan saling memahami antara satu dan yang lainnya,” Jelasnya.

Lebih jauh, ia menjelaskan dengan berbagai langkah sekolah ramah anak, Boy berharap dapat menjadi lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang peserta didik secara optimal.

Program Sekolah Ramah Anak ini diharapkan bukan hanya menjadi identitas sekolah, tetapi juga menjadi kultur yang hidup dan dirasakan oleh seluruh warga setiap harinya.

“Harapan kami. Mudah-mudahan sekolah ini betul-betul diandalkan dan diharapkan dan menjadi contoh juga dengan sekolah-sekolah lain di Kabupaten Buton,” Jelasnya. (*)