PANDUANRAKYAT, BUTON- Sejumlah Pelajar SMP di Kecamatan Lasalimu, Kabupaten Buton mengikuti lomba Baca Puisi dalam rangka HUT ke 80 Republik Indonesia.
Giat ini dipusatkan di SMPN 6 Buton di Kelurahan Kamaru, Senin (11/8/2025).
Pembacaan puisi ini ada dua. Setiap peserta membaca puisi yang diwajibkan dari panitia dan puisi pilihan, sekolah yang menentukan.
Saat pembacaan puisi ini, siswi kelas IX, SMPN 51 Buton di Desa Lawele, Citra Rustika Sari mengkritik pemerintah melalui puisi pilihan.
Puisi kritik ini diciptakan guru SMP setempat, La Ode Darlin, S.Pd dengan judul Kami Belum Sepenuhnya Merdeka.
Berikut karya sastra berbentuk puisi berisi sindiran untuk pemerintah.
“Delapan Puluh Tahun Indonesia Merdeka.
Delapan Puluh Tahun Indonesia Bebas.
Merdeka Dari Para Penjajah.
Bebas Berfikir Juga berpendapat,”
“Wahai Tuaaannnnnn
Sungguh Empuk Kursi Yang Engkau Duduki. Hingga Enggang Berdiri Menengok Kami. Masyarakat Terpinggirkan. Yang Tak Pernah Merasakan Kemerdekaan,”.
“Saya, Siswa SMP Negeri 51 Satu Atap Buton. Di lahirkan dan Dibesarkan diatas Tanah Buton. Berdiri tegak Diatas Tanah Buton. Didalamnya Terdapat Aspal Sampai Keujung Dunia. Tapi Lihatlah Tuan. Lihatlah Sekolah Kami. Telah Condong Bagaikan Menara Pisa. Tinggal Tunggu Kehancurannya,”
“Lihatlah Wahai Tuan. Lihatlah Jalan Kami. Bagaikan Gelombang Ombak Di Laut Bebas. Tinggal Tunggu Kehancurannya,”
“Wahai Bung Karno. Lihatlah Bangsa Yang Engkau Perjuangkan Ini. Hancur Sekejab Ditangan Kotor Para Oligarki. Apakah Ini Kemerdekaan Yang Engkau Harapkan ?,”
“Wahai Bung Hatta. Lihatlah Pendidikan Yang Engkau Besarkan Ini. Telah Hancur Sekejab Ditangan Kotor Para Koruptor. Merampas Semua Yang Bukan Haknya. Kami Belum Sepenuhnya Merdeka,”.
Guru Pendamping, SMPN 51 Buton, La Ode Darlin, S.Pd menjelaskan maksud dari puisi ini sedikit mengkritik pemerintah sesuai dengan keadaan guru,siswa dan keadaan sekolah agar pemerintah memperhatikan guru dan SMPN 51 Buton.
“Jalan kesekolah kami itu rusak total dengan keadaan jalan seperti itu kami guru tetap semangat dan sekolah kami itu sudah miring tinggal menunggu hancurnya saja,” Ujar dia kepada Panduanrakyat.com.
Lebih lanjut, ia menjelaskan satu bangunan sekolah SMPN 51 Buton itu miring karena abrasi, aliran sungai yang selalu mengikis tanah hingga satu bangunan miring ke sungai.
“Abrasai.Karena di belakang sekolah itu ada kali besar. dan itu kejadian sudah lama. Tapi tidak pernah di perhatikan,” Jelasnya.
“Itu sudah miring dan kami guru tidak berani pake lagi ruangan itu di belakangnya ada kali besar itu,” Tandasnya. (*)

