PANDUANRAKYAT, BUTON-Para petani di Desa Lasembangi, Kecamatan Lasalimu, Kabupaten Buton memanfaatkan lahan kosong yang tidak produktif dengan berkebun jeruk.
Bercocok tanam sejak tahun 2015 silam, lahan dengan luas sekitar 40 hektare sudah disulap menjadi kebun jeruk manis.
Potensi ini lantas akan dimanfatkan pemerintah desa setempat, dengan mengubah kebun jeruk milik petani menjadi kawasan agrowisata dengan tujuan mendongkrak pendapatan petani.
Kepala Desa Lasembangi, Sabaparta, mengatakan bahwa untuk di Desa Lasembangi sekitar 40 hektar lahan telah dimanfaatkan para petani dengan menanam jeruk secara mandiri. Tanpa bantuan pemerintah.
Terbaru, jeruk yang ditanam tahun 2021 lalu, nantinya akan siap dipanen di tahun 2023. Hal itu dikarenakan tanaman jeruk merupakan hortikultura, jangka panjang yang siap dipanen di usia dua tahun.
Lanjut, ia menjelaskan bila diasumsikan jarak tanam 4×4 meter, satu hektare lahan terdapat 400 jeruk manis, lantas dengan luas 40 hektare, berarti para petani telah menanam sebanyak 16.000 pohon jeruk di Desa Lasembangi.
“Mudah-mudahan di tahun 2023 nanti tanaman jeruk yang ada di Lasembangi bisa mejadi lokasi agro wisata, karena minat masyarakat terhadap buah jeruk tersebut sangat tinggi apa lagi nanti ada sekitar 16000 pohon jeruk yang panen dari luasan lahan sekitar 40 hektare yang di tanam sejak tahun 2021 lalu,” ujar dia saat ditemui di ruang kerjanya, Kantor Desa Lasembangi, Jumat (14/10/2022).
“Saya selaku kepala desa berharap agar dinas terkait untuk mendukung pengembangan potensi Desa Lasembangi ini karena dari desa itu hanya mendukung di infartuktur seperti jalan tani walau hanya sedikit dan penyedian pupuk cair melalui dana desa,” harapnya.
Di tempat berbeda, salah seorang petani, Sigit Handoyo menjelaskan di Lasembangi para petani sudah bercocok tanam jeruk siam sejak di tahun 2000-an, namun pada tahun 2005 semua tanaman jeruk terserang virus, baru lah di tahun 2015 lalu, para petani mulai menggalakkan lagi budidaya tanam jeruk.
Lanjut, Sigit menjelaskan diperkebunannya, saat ini sudah ada beberapa varietas jeruk yang mulai di kembangkan. Seperti Jeruk Siam Madu, Jeruk Dekopon, Jeruk Sankis, Dekopon dan beberapa jenis jeruk yang lainnya.
Dari varietas yang ada, kata dia yang menjadi program unggulan adalah Jeruk Siam Madu dan Jeruk Siam Bogor. Hal itu dikarena kedua varietas tersebut mudah di tanam dan hasilnya sangat memuaskan.
“Saat ini sudah ada sekitar sepuluh varietas jeruk yang kami kembangkan yaitu Jeruk Siam Madu, Jeruk Siam Bogor, Jeruk Sangkis, Jeruk Keprok Batu 55, Jeruk Siompu, Jeruk Nipis, Jeruk Jc, Jeruk Santang Madu, Jeruk Famelo dan yang terbaru yaitu Jeruk Dekopon,” ungkapnya di kebun jeruk miliknya.
“Dan untuk pemasarannya sendiri saat ini belum mengalami kesusahan karena permintaan sangat banyak, untuk bulan lalu yang baru selesai saya panen sekitar 7 ton itu baru sekitar 400 pohon yang di panen perdana karena yang saya tanam di tahun 2015 lalu sudah mulai saya remajakan,” tuturnya.
Lanjut, ia mengaku saat ini ia berkebun jeruk seluas 4 hektare. Di tanami sekitar 1200 pohon jeruk. Didalam kawasan perkebunannya, ada beberapa jenis jeruk dan untuk yang menjadi prodak unggulan yaitu jeruk siam.
Ia menjelaskan harga jual jeruk di kebun miliknya Rp 15000/Kg. Tetapi khusus pengunjung dikenakan biaya tambahan, yaitu Rp 15000. Dengan harga itu, tiap pengunjung bebas memakan jeruk sepuasnya.
“Saya mewakili para petani jeruk yang ada di Lasembangi mohon kiranya beberapa dinas untuk betul-betul memperhatikan para petani jeruk ini seperti akses jalan, pengadaan bibit, serta pupuk juga karena jika tanaman ini di kembangkan maka Buton akan bisa menjadi salah satu penyuplai jeruk yang ada di Sultra,” tandasnya.
Peliput: Toni Armin Syah

