BAUBAU, PANDUANRAKYAT.COM – Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Betombari kota Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra) berhasil merampungkan pengerjaan fisik perpanjangan landasan pacu (runway) Bandara Betoambari Kota Baubau menjelang puncak hari jadi Baubau ke-483 dan hari ulang tahun (HUT) kota Baubau sebagai daerah otonom ke-23 pada 17 Oktober 2024.
Saat ini, dengan adanya perpanjangan, runway Bandara Betoambari kurang lebih menjadi sepanjang 2.011 meter.
“Saat ini kami sudah lakukan perhitungan final untuk mencocokan volume pekerjaan dan verifkasi terkait kelayakan operasi untuk pendaratan pesawat Airbus A320,” ungkap Kepala UPBU Betoambari, Anas La Bakara, Rabu 16 Oktober 2024.
Ia menyebut, saat ini tim dari Dirjen Perhubungan Udara sudah datang untuk memverifikasi kelayakan hasil pekerjaan perpanjangan runway. Dikatakan, perpanjangan runway Bandara Betoambari tidak lain untuk peningkatan pelayanan kepada pengguna jasa di Baubau dan daerah sekitarnya.
“Ini juga sejalan untuk meningkatkan peran Baubau sebagaimana yang disampaikan Pj Wali Kota Baubau sebagai Hub Maritim di Sulawesi sehingga harus didukung peningkatan konektivitas udara, laut, darat dan digital. Dari sisi konektivitas udara, Bandara Betoambari berupaya meningkatkan pelayanan dari sebelumnya hanya bisa didarati pesawat ATR 72, menjadi pesawat Airbus A320,” katanya.
Mantan Kepala Bandara Toraja itu menilai, bila Bandara Betoambari sudah dilandasi pesawat airbus A320 maka harga tiket bisa berkisar diangka Rp 600-800 ribu. Dibanding harga tiket saat ini yang mencapai Rp 1,7 juta padahal menggunakan pesawat ATR 72.
Meski begitu, tetap saja airline yang menentukan harga tiket bila pesawat airbus A320 sudah mendarat di Bandara Betoambari.
“Saat ini jika melihat harga pasar misalnya di traveloka, dua jam penerbangan dengan pesawat mesin jet harganya Rp1,3 juta. Jadi kalau satu jam penerbangan, secara logika dibagi dua yakni diangka Rp600 ribu lebih,” ujarnya.
Reporter : Ardilan

